Saidah, Janda Dhuafa yang Ikhlas Mengajar Ilmu Agama

  • Whatsapp
Syuaib-dan-Julaesih-Pasutri-yang-Menjadi-Guru-Ngaji-di-Pinggiran-Jakarta
Foto dari suratkabar.id

Hidup di perbatasan bukan perkara yang mudah. Sarana dan prasarana yang kurang memadai didukung dengan bentang alam yang masih belum tersentuh pembangunan membuat segalanya serba sulit. Namun, sosok inspiratif asal Kalimantan Utara ini tidak pernah menyalahkan keadaan. Ia ikhlas berjuang ditengah keterbatasan finansial demi menghidupi 8 buah hati tercinta. Inilah kisah Saidah, janda dhuafa yang ikhlas menjadi guru mengaji anak-anak di sekitar Sebengkok, Tarakan Barat, Kalimantan Utara.

Siapa sosok Saidah yang sangat tangguh?

Saidah adalah seorang janda yang ditinggal sang suami hanya demi mengejar wanita lain. Sakit hati yang dialami Saidah tidak membuat ia menyerah. Meski seorang diri, ia bertekad untuk menghidupi dan membiayai 8 anak tercinta. Saidah pernah bekerja di perusahaan udang hingga bekerja di Malinau selama sebulan saja. Ia akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja demi menjadi guru ngaji.

Read More

Setiap hari, Saidah mengajar murid-muridnya dari rumah ke rumah. Ia tidak mengeluh meski harus berjalan kaki karena tidak memiliki kendaraan sendiri. Imbalan yang diberikan bervariasi tergantung kemampuan orangtua murid. Setiap bulan Saidah biasa menerima 20 ribu hingga 100 ribu per bulan dari bayaran guru mengaji. Penghasilan itulah yang ia gunakan untuk menghidupi anak-anaknya.

Ditengah perjuangan yang keras, Saidah bisa sedikit berharap pada si sulung dan anak kedua yang bisa melanjutkan kuliah karena mendapatkan beasiswa bidik misi. Sedangkan tiga yang lain harus putus sekolah dan bekerja menjadi kuli bangunan, tiga terakhir masih duduk di bangku sekolah. Ia masih harus berjuang untuk membayar biaya pengadaan buku dan biaya operasional lain.

Saidah merupakan janda yang memiliki tekad kuat untuk terus memberikan pendidikan yang terbaik. Sesalnya tidak bisa memberikan pendidikan untuk ketiga anak yang terpaksa putus sekolah. Namun, Saidah tidak ingin menyerah begitu saja. Ia terus berusaha agar anak-anak bisa mengikuti ujian kesetaraan dan bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dibandingkan dirinya.

Di usia yang sudah mencapai pertengahan kepala empat, Saidah tidak ingin menikah lagi. Ia ingin fokus membesarkan anak-anak sebaik mungkin. Ditengah keterbatasan finansial yang ia alami, Saidah tidak pernah menyesal berhenti bekerja dari perusahaan udang. Ia bahagia menjadi seorang guru mengaji untuk anak-anak di sekitar kelurahan Sebengkok RT 20. Sebuah kisah yang sanggup memberikan inspirasi untuk terus berjuang sampai titik penghabisan.

Kebaikan untuk Ibu Saidah

Allianz Syariah mengadakan campaign #AwaliDenganKebaikan untuk orang baik seperti Ibu Saidah. Kita bisa ikut meringankan beban yang harus ditanggung oleh Ibu Saidah dengan mengikuti program asuransi syariah Indonesia. Dari iuran per bulan, kita bisa ikut serta memberikan sumbangsih sosial kepada orang-orang yang lebih membutuhkan.

Produk asuransi syariah memiliki berbagai fitur menarik seperti Allisya Protection Plus yang bisa memberikan perlindungan untuk kita dan keluarga. Antisipasi risiko kehidupan yang bisa terjadi kapan saja harus dilakukan sejak sekarang. Setidaknya orang yang memiliki payung jauh lebih siap saat hujan datang kapan saja, bukan?

Ada pula fitur Wakaf yang akan membantu kita untuk mendonasikan sedikit harta di jalan kebaikan. Sebuah amalan yang akan memberikan pahala tanpa putus di akhirat kelak. Kita bisa memberikan kebahagiaan pada orang lain seperti Ibu Saidah. Meskipun menghadapi kepahitan hidup di daerah pelosok, semangat dan perjuangan Ibu Saidah bisa diapresiasi dengan kebahagiaan kecil. Yuk, tularkan berkah kehidupan kepada Ibu Saidah dan 8 anaknya di Sebengkok, Tarakan Barat, Kalimantan Utara lewat Allianz Syariah!

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *